PERETAS Berkumpul di Bali

whatsapp-image-2019-04-18-at-23.18.12.jpeg

PERETAS BERKUMPUL DI BALI
Sabtu, 27 April 2019 17.00 WITA
Littletalks, Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali
Empat perempuan pekerja seni berdomisili di Bali, mendapat kesempatan berkumpul bersama 50 perempuan dari seluruh wilayah Indonesia di Institut Mosintuwu, Tentena, Poso-Sulawesi Tengah dalam acara Peretas Berkumpul Pakaroso 01! pada 21 – 25 Maret 2019. Pakaroso adalah ajakan untuk saling menguatkan dalam Bahasa Pamona.

Peretas mengajak para perempuan menengok narasi-narasi yang telah dilahirkan dari pengalaman perempuan, menentukan strategi kerja seni budaya dalam jaringan perempuan lintas batas, yang saling menguatkan kerja perempuan secara kolektif.
Acara yang dilaksanakan di sekolah perempuan penyintas konflik Poso ini diinisiasi oleh
organisasi Peretas (Perempuan Lintas Batas) sebagai upaya mengembangkan, membuka adanya diskursus, ruang berbagi dan menemukan potensi kolaborasi antara penulis, aktor, perupa, penari, pemusik, pesuara, perupa gerabah, perupa kain, peramu masakan, cendekia, kurator, kritikus atau pelaku kreatif lain yang bersifat memperkaya dan memajukan ekspresi kebudayaan perempuan.

Empat perempuan pekerja seni dari Bali yang lolos seleksi sebagai peserta Pakaroso 01! adalah Citra, Novi, Tria dan Lilu. Kami akan berbagi pengalaman Peretas di Littletalks , Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali. Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.00 WITA. Presentasi dan diskusi akan dipandu
oleh Ruth Onduko dari Futuwonder.

Acara ini terbuka untuk umum dan bebas biaya.

Futuwonder x Uma Seminyak Presents “TANDA SERU”

eventFB-TS-01

 

A visual art exhibition on the occasion of the commemoration of International Woman Day and Kartini’s Day.

Opening: Sunday 31 March, 6 pm at @umaseminyak

The exhibition will go through to 13 April 2019.

List of artists:
Aria Gita Indira
Citra Sasmita
Cristine Mandasari
Intan Kirana Sari
Irene Febry
Pangestu Widya Sari
Putu Sridiniari
Santi Permana

@futuwonder is a cross-disciplinary collective that works in the art development platform, visual arts discourse and supports the occurrence of art activities for women.

Futuwonder curated 8 female artists from different backgrounds to talk about women issues in Indonesia particularly related to their daily experiences, critically reviewing and observing patriarchal, social and environmental situations. “Tanda Seru!” present as a call for hope, to raise questions, and open dialogue about the emancipation of women in Indonesia.

Seni  Sebagai  Ruang  Negosiasi Sosial Dan Politik

Screen Shot 2019-03-14 at 12.57.00.png

Stereotype seni sebagai citra pariwisata di Bali telah mengakar begitu kuat sehingga kesenian hanya dipandang sebagai komoditi untuk menarik minat para wisatawan untuk menikmati cita rasa Bali, baik itu berupa seni pertunjukan ataupun seni visual. Namun dibalik apresiasi orang luar tersebut terhadap estetika seni dan kecakapan seniman dalam menciptakan karya, masyarakat Bali menyimpan sejumlah permasalahan sosial ketika menggantungkan diri dengan perekonomian pariwisata dan industrialisasi yang mulai berkembang di Bali.

Bali memang pernah menjadi primadona dunia Internasional dengan julukan pulau dewata sehingga arus wisatawan asing menjadi begitu pesat dan memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat Bali. Akan tetapi, peristiwa bom Bali pada tahun 2002 telah menjadi catatan lain akan sejumlah tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Bali. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada kelesuan perekonomian semata, namun berdampak pula pada perubahan pola pikir masyarakat menjadi semakin etnisentris dan kerap menaruh kecurigaan terhadap pendatang atau orang dari luar Bali. Di sisi lain para wisatawan asing masih dinanti kehadirannya di Bali dengan harapan bisa mengulang kejayaan bisnis pariwisata pra bom Bali meski ada banyak sekali dari mereka akhirnya menetap kemudian membeli lahan masyarakat dan turut mencari makan di Bali dengan membangun hotel, resto atau villa dan bahkan mengintervensi kebudayaan secara perlahan atas nama globalisasi.

Sudahkah kita mencermati wajah Bali saat ini? Kesenian di mata masyarakat Bali masih berjalan sebagaimana mestinya sebagai kebutuhan estetik dan juga sakral. Meski beberapa kesenian yang sifatnya sakral, dimana pada awalnya ditujukan sebagai persembahan ritual keagamaan akhirnya menjadi profan dan dipandang sebagai alat komoditi pariwisata. Tak sedikit masyarakat yang mempersoalkan dan menyampaikan kritik mengenai desakralisasi kesenian misalnya barong brutuk, tari janger meborbor dari Bangli yang pernah dipentaskan di Taman Budaya ketika perhelatan  PKB (Pesta Kesenian Bali) pada tahun 1994 misalnya. “Namun para anggota sekaa janger itu tenang-tenang saja. Mereka tak peduli pada debat seni sakral dan profan. Mereka berkomentar, sudah saatnya kesenian khas mereka dipertontonkan agar sebanyak mungkin orang tahu.”( Soethama, Aryantha Gde, 2003).

Perubahan Bali bisa dilakukan oleh orang Bali dengan menegaskan kembali tonggak sikap,  pemikiran dan kritisisme  terhadap dinamika sosial dan masyarakat. Dalam kaitannya dengan sejarah seni rupa Bali, kontribusi pelukis Eropa pada tahun 1930an sedang melancong ke Bali seperti Rudolf Bonnet yang memberikan pengaruh Barat pada seni lukis tradisional, tidak hanya dari segi teknis namun memberikan pemahaman kepada para pelukis Bali untuk mengkomersilkan karya mereka selain sebagai persembahan untuk upacara keagamaan. Tidak hanya itu, Walter Spies juga menciptakan tari kecak yang berhasil menjadi penanda dunia yaitu sebagai salah satu eksotika Bali yang harus dilihat dan dinikmati. 

Tokoh-tokoh ini kerap digrolifikasi dalam catatan sejarah kebudayaan sebagai pembawa perubahan di Bali. Pengaruh kolonial dalam segala lini kebudayaan dengan mulai mengembangkan progresifitas kesenian dan turisme barangkali setidaknya membuat masyarakat Bali terlena akan stagnansi kesenian yang dianggap adiluhung. Kemudian sekitar tahun 1938 lahirnya organisasi PERSAGI (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia) di Jakarta, sebagai langkah politis seniman lukis Indonesia untuk memformulasikan identitas keseniannya dengan spirit nasionalisme dan ke-Indonesiaan-an. Pada masa itu karya-karya seni lukis yang muncul kerapkali menggambarkan penderitaan, kemiskinan dan situasi sulit yang dialami bangsa Indonesia dalam masa penjajahan Belanda. Karya-karya dari seniman anggota PERSAGI kerap ditolak dalam ruang-ruang pameran yang pada masa itu lukisan pemandangan alam dan lanskap alam Indonesia sedang menjadi primadona oleh pelukis-pelukis asing dan pelukis elit Indonesia. Tercatat seorang pelukis dari Bali bernama Nyoman Ngendon yang tergabung juga dalam organisasi ini menyatakan sikapnya yang anti kolonial. Namun usia keseniannya tidak begitu panjang karena Ngendon gugur ketika menjadi pejuang kemerdekaan.

Sejarah yang selama ini diwariskan dan kita terima begitu saja perlu dikritisi oleh para seniman dan intelektual muda Bali dengan  meletakkan kesadaran dan selalu mempertanyakan dan melakukan riset terhadap hal-hal yang luput dari pembacaan besar sejarah, kemudian menimbang relevansinya dengan fenomena masa kini. Menyatakan sikap politik ditengah masyarakat yang cenderung apatis terhadap kekacauan sosial, bencana dan konflik negara, tentu bukan perkara ringan untuk mengajak masyarakat dalam menyatakan dan menganut ideologi tertentu sebagai moda menuju adanya demokrasi. Terlebih lagi dalam kondisi politik hari ini masyarakat tidak melihat dengan jernih mengenai pergerakan isu dan kebijakan bahkan larut dalam pertentangan serta perpecahan yang memanfaatkan isu-isu SARA. 

Dalam sejarah panjang perpolitikan di Indonesia, meski kesenian seolah-olah menjadi dimensi yang berbeda dan tidak signifikan, para seniman tetap mempunyai peran penting dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Pada masa orde baru hingga reformasi 1998, kesenian dan aktivisme menjadi sebuah kesatuan dan spirit atau ideologi yang diperjuangkan oleh para seniman seperti Semsar Siahaan, Arahmaiani, Dadang Christanto, Fx Harsono, hingga kelompok Taring Padi.  Seniman pada masa itu mengalami represi yang dilakukan oleh rezim otoriter yang membatasi kebebasan dalam berekspresi, terutama yang berkaitan dengan isu-isu politik. Situasi tersebut mengakibatkan kekacauan yang ditandai melalui pembredelan media massa, pembatasan terhadap acara-acara kesenian yang dianggap politis, hingga cap sebagai pembangkang negara yang disematkan kepada sejumlah seniman. Yang kemudian mendorong mereka untuk melahirkan karya-karya yang sarat akan muatan politik, kritik kepada penguasa dan perjuangan akan isu-isu kemanusiaan. 

Namun setelah reformasi 98 mencapai klimaks, terjadi lompatan besar terhadap situasi sosial yang juga mempengaruhi generasi hari ini. Seniman muda kerap kali kebingungan untuk apa dan siapa mereka berkarya, jika bukan untuk menyambung hidup dengan karya seninya. Mereka lahir pada masa yang sudah relatif membaik dan tidak secara langsung mengalami kekacauan politik. Akibatnya, seni dan aktivisme berjalan dengan metodenya sendiri dan tidak berkaitan satu sama lain. Seniman cenderung menciptakan karya yang sifatnya dekorasi dan tidak menyampaikan muatan pesan apapun dalam karyanya atau yang sifatnya menyampaikan permasalahan personal dan tidak berkaitan langsung dengan perubahan sosial. 

Membaca gejala tersebut, seni untuk perubahan sosial kembali digalakkan dengan kemunculan seniman-seniman yang tidak hanya berfokus pada karya dinding galeri. Partisipasi aktif seorang seniman dalam memberikan konteks dan pesan pada karya mereka sekaligus mendorongnya berkontribusi dalam masyarakat sehingga berdampak pada psikologis sosial, ekonomi dan politik itu sendiri. Kesenian sangat mungkin untuk menjadi ruang negosiasi politik terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi. Tinggal seberapa jauh, seniman dan masyarakat dapat saling berbagi peran dalam setiap potensi kehidupan yang ada.

26 Januari 2019 

Citra Sasmita, seniman

Focus On: Mangku Muriati

whatsapp image 2019-01-23 at 14.55.54

Mangku Muriati, Puan Pelukis Wayang Kamasan dari Banjar Siku

Video Focus On Mangku Murati: Klik disini

Penulis: Putu Sridiniari dan Savitri Sastrawan

 

Pada abad ke-17, lukisan tradisional berkembang di daerah timur Bali, tepatnya di Desa Kamasan, Klungkung, yang kini dikenal dengan gaya lukis Wayang Kamasan. Konsep dari gaya lukis Kamasan berangkat dari kebutuhan ritual keagamaan dan pemujaan, serta persembahan kepada raja. Tema-tema yang paling sering muncul adalah epos Ramayana dan Mahabharata.

Mangku Muriati adalah anak perempuan dari Mangku Mura (1920-1999), pelukis Kamasan yang terkenal pada generasinya. Mangku Muriati sejak kecil rajin membantu mewarnai sketsa bapaknya. Pada tahun 1986 sampai 1993, Mangku Muriati menjadi satu-satunya dari saudaranya yang melanjutkan pendidikan akademisnya di bidang seni rupa, Program Sarjana Seni Rupa dan Desain (PSSRD) di Universitas Udayana.

Lekat terasa pengaruh Bapaknya, Mangku Mura pada curahan hati Mangku Muriati siang itu. “Semua berkat dukungan Bapak! Bapak percaya bahwa saya pun sebagai perempuan layak untuk mendapatkan pendidikan dan berkarya. Punya anak tujuh, Bapak rela berkorban bahkan pernah 3 hari tak makan demi anak-anaknya. Bapak memperjuangkan pendidikan saya,” cerita Mangku Muriati.

Cita-cita Mangku Muriati setelah lulus adalah menjadi seorang dosen. Pada tahun 1995 ia melamar sebagai dosen lukis tradisi Kamasan di STSI, namun tidak diizinkan oleh bapaknya Mangku Mura. Menurutnya, ini pemikiran yang sangat aneh, untuk apa sekolah tinggi lalu tidak diperbolehkan melamar menjadi dosen?

Pada tahun 1999, Mangku Mura meninggal dunia dan Mangku Muriati mendapat wangsit untuk menggantikan posisi bapaknya sebagai Pemangku (pendeta). Bapaknya memilih Mangku Muriati yang perempuan daripada kakak-kakak laki-lakinya yang waktu itu sudah terus membantu bapaknya dan seorang pemangku juga. Ternyata Mangku Mura ingin mendobrak dan memberi contoh bahwa pedanda perempuan itu juga layak dan bisa diterapkan. “Bapak ingin pemangku kawa, tidak kania,” tutur Mangku Muriati.

Selama dua purnama kemudian, Mangku Muriati belajar menjadi pendeta. Harus membaca bacaan sastra Bali, belajar menggunakan genta. Ia tidak mau berutang budi kepada orang tua, maka ia jalankan amanah dari bapaknya. Ia harus bisa dan melanjutkan bapaknya. “Namun, saya sempat bertanya, kenapa harus kuliah? Katanya, supaya kamu lebih bisa, agar pengetahuan lebih banyak dari bapak. Kamu harus mempertahankan ini, hanya kamu yang bisa. Jangan sampai nama bapak itu hilang. Maka saya selalu membawa nama saya Muriati Mangku Mura,” Mangku Muriati menjelaskan.

Dalam berkesenian, Mangku Muriati merasakan dampak hal itu ke eksplorasi tema karya. Privilesenya adalah mendapatkan akses untuk membaca sastra menjadi salah satu inspirasinya. Sebagai seorang perempuan yang mengemban posisi krusial dan strategis, standar ganda masih sering dirasakan sehingga Mangku merasa satu-satunya cara adalah dengan tetap bersuara melalui karya. Ia memang ingin menjadi pelukis, ingin seperti bapaknya, ingin menjadi perempuan perupa Kamasan, dan ia dapat membuktikannya.

Seniman tradisional Kamasan menggunakan pigmen alami, pena dan kuas buatan. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka berusaha untuk menciptakan kesempurnaan garis, bentuk, proporsi maupun komposisi warna sesuai dengan aturan ikonografi.

Pendidikan tinggi tidak mengubah gaya lukis Muriati, namun seperti yang diinginkan bapaknya, malah membantu secara teknis mengingat pada tahun 1990an ini ada gelombang perpindahan dari penggunaan pigmen warna alami ke akrilik. Dulu, warna ochre (kuning kecoklatan) didapat dari batu gamping dari Pulau Serangan di selatan Bali. Sejak 1990, pengusaha Tommy Suharto mengembangkan properti disana, jalanpun dibangun, sejak saat itu pelukis Kamasan tak lagi dapat menambang batu disana. Banyak orang yang mengandalkan stok batu yang dikubur untuk menghindari oksidasi. Namun untuk warna lain seperti biru dan hijau, Muriati mengandalkan ilmu yang ia dapat di perguruan tinggi untuk mencampur warna dari bahan akrilik.

Saat ini warna alami yang masih bisa didapatkan adalah batu pere. Namun jika habis, maka cat warna yang mendekati pere lah yang digunakan. Lem ancur untuk mendasari kanvas dan mengolah warna alam sudah tidak sama. Untuk alat, menggunakan pena bambu yip, tetapi suka rapuh maka sekarang dikombinasikan menggunakan drawing pen untuk nyawi (tahap terakhir menebalkan garis-garis). Untuk warna putih masih menggunakan tulang babi. Sedangkan untuk mencampur warna, lem kayu modern seperti Fox pun digunakan untuk mendasari kanvas dan mencampur warna. Maka dalam melukis Kamasan, Mangku Muriati sudah mengkombinasikan warna alami dengan cat akrilik.

Selain ia tetap aktif berpameran di sela kesibukannya, uniknya ia rajin menantang batasan-batasan tradisi dengan bermain tema dan medium, seperti isu politik dan sosial masa kini di dalam lukisannya. Ia juga mendapatkan inspirasi dari sumber-sumber lain yang keluar dari tema Ramayana dan Mahabharata. Memang menjadi satu kesulitan saat ia ingin menjual karyanya tetapi pembeli karyanya tidaklah menjadi sembarang orang juga. Dengan cerita-cerita yang diangkat seperti cerita asal mula padi, geguritan yang ia dengar di radio, dari lontar yang ia baca, pembeli malah tertarik karena lukisan wayangnya tidaklah saja tentang Ramayana maupun Mahabrata. “Pengunjung yang datang mau bertanya dan cari tahu. Terpilih lah mereka, tidak sembarang tamu. Karena adanya cerita unik, mereka sampai disini (di rumah Mangku Muriati) dan ingin mencari tahu. Tempat ini tidaklah seperti artshop (toko jual lukisan),” ungkap Mangku Muriati.

Walaupun orang tua Mangku Muriati mampu menyekolahkannya dengan saat itu lukisan dan pariwisata melaju pesat sehingga dapat pendapatan banyak dari melukis, bapaknya berpesan bahwa ia tidak harus khawatir jika pariwisata lesu karena dipercaya akan bertahan (survive). Untuk Mangku Muriati pun, intinya adalah melestarikan gaya lukisan Wayang Kamasan. “Gaya lukisan ini adalah satu-satunya lukisan klasik di Bali. Walaupun ceritanya dari ide-ide baru, penampilan tetap Kamasan. Seperti mempertahankan pohon-pohon gaya Kamasan disini,” Mangku Muriati sambil menunjukan gaya pohon yang ia lukis, “Sekarang pohon gaya Ubud yang ditiru.”

Pembicaraan dari Ibu Mangku Muriati sungguh menginspirasi dan banyak cerita darinya. Pengetahuannya yang sangat luas membuat kita ingin tidak berhenti berdiskusi. Kami berharap Mangku Muriati dapat menginspirasi lebih banyak orang lagi, para perempuan pekerja seni di Bali maupun luar Bali, dan kami berharap berkolaborasi bersamanya agar karyanya terus dikenal oleh generasi-generasi berikutnya.

Mangku Muriati merupakan salah satu invited artist yang ikut dalam pameran Masa Subur: Efek Samping pada tahun 2018. Untuk katalognya klik disini

Catatan No. 2: Visual Culture dan Aktivisme Visual Pameran Efek Samping

Penulis: Savitri Sastrawan       

 
Tema yang dibawakan Futuwonder disini cukup besar dan diharapkan dapat memberikan perspektif dan wacana yang lebih terhadap dunia seni di Bali, terutama kesempatan perempuan di dalam kesenian Indonesia. Karena yang dipertanyakan adalah narasi seni rupa yang cukup besar, khususnya Indonesia, maka secara tidak langsung Futuwonder berkontribusi pada apa yang disebut Visual Culture (Budaya Visual) Bali dan Indonesia.

Visual Culture lahir sebagai pelebaran (extension) dari penulisan sejarah seni (art history) yang salah satu inspirasinya datang dari analisa lukisan Diego Velazquez berjudul “Las Meninas” oleh Michel Foucault di bukunya The Order of Things. Velazquez adalah pelukis keluarga Kerajaan Spanyol. Analisanya membahas lebih dari apa yang terlihat dari lukisan itu. “Las Meninas” yang terlihat menceritakan suasana sebuah keluarga Kerajaan Spanyol di kastilnya, Raja dan Ratunya tidak menjadi fokus utama pada lukisan itu, dianalisa memiliki wacana tentang jenjang sosial serta representasi keluarga kerajaan tersebut, dan ini dikatakan sebagai pembacaan new art history (sejarah seni rupa baru) yang nantinya menjadi konsep visual culture.

Sejarah seni rupa yang telah tertulis di Barat oleh akademisi maupun perupa Barat sejak postmodernisme penulisannya dianggap terlalu Euro-sentris dan West oriented (berkiblat di Barat saja) maka harus dilihat kembali dan dibaca kembali dari seluruh dunia. Visual Culture bekerja dengan cara mengekspresikan atau menunjukan riset sejujur dan segamblang mungkin. Eksistensi Visual Culture adalah Pengkajian Budaya yang basisnya berdeketan dengan Culture Studies (pengkajian teori budaya) dan Media Studies (pengkajian teori media). Maka Visual Culture berangkat dari penulisan untuk sejarah seni yang menjadi bagian dari teori seni masa kini. Menurut Visual Culture ada banyak sejarah seni (art histories) dibanding satu yang linear saja.

Menurut Nicholas Mirzoeff, editor dari buku besar Visual Culture Reader dari tahun 1990, menyatakan Visual Culture telah dibahas sejak tahun tersebut dan telah berkembang sejak itu. Pada tahun 2015, ia mengeluarkan buku berjudul How to See the World dan menyatakan bahwa visual culture telah berevolusi menjadi praktik yang dinamakan visual thinking (berpikir secara visual) dan tidak bisa dipelajari saja tetapi juga harus ikut didalamnya (engage). Dan dalam kurun 25 tahun itu, sudah konversi ke visual activism (aktivisme secara visual). Maka aktifis visual merasa visual culture menjadi metode untuk membuat perubahan-perubahan. Dengan itu juga, dalam visual culture analisa pendobrakan-pendobrakan banyak dibahas karena bagian darinya.

Penyelenggaraan Pameran Efek Samping oleh Futuwonder pun dilihat melakukan beberapa dekonstruksi pada eksistensi kesenian di Bali. Pertama, dari Catatan No. 1 yang ditulis dan dengan pengertian aktivisme visual di atas, karya-karya dan perupa-perupa yang terpilih juga menjadi bagian dari visual culture yang dibentuk Futuwonder itu dan berkontribusi sebagai bentuk visual aktivisme di Bali. Visual aktivismenya adalah mengajak perempuan pekerja seni dari seluruh Indonesia menanggapi tema Efek Samping dengan pengalaman, cara berekspresi dan cara berkarya masing-masing.

Akhirnya, terlahirlah 24 karya yang berkontribusi terhadap perpanjangan sejarah seni rupa Indonesia yang memperlihatkan keragaman karya perempuan pekerja seni. Pesannya pun beragam dari berbagai narasi seperti kata-kata dalam bahasa, gender, keluarga, membangun percaya diri, kerapuhan, narsisme, kekuasaan, kesenangan, kehidupan domestik, pemberdayaan, mengobati diri sendiri (self healing), dan identitas.

Sebagai invited artists dari luar Bali, Andita Purnama dan Ika Vantiani melihat kuratorial yang dilakukan Futuwonder sangat terpikirkan dengan baik dan menjadi format pameran yang jarang ditemukan juga. Dan dengan mengadakannya di Bali, sangat memperkaya lagi daya visual kekaryaan yang disuguhkan di Bali. Apalagi perupanya adalah perempuan semua.

Kedua, secara bentuk kolektif, Futuwonder terdiri dari beberapa perempuan pekerja seni yang bidangnya tidaklah seragam. Cara kerja Futuwonder dengan background yang berbeda di kesenian dapat mengisi sesama dari berbagai perspektif. Mulai dari perspektif manajemen, perupa, desain dan kuratorial. Dengan pengalaman masing-masing, Futuwonder mencoba membangun sesuatu yang objektif, terorganisir, dan positif untuk dinamika kesenian Bali itu sendiri.

Misalnya, untuk pembacaan pameran ini, dipastikan pembacaan sejarah seni yang dipertanyakan tidaklah dari satu buku sejarah saja dan yang tidak berkiprah di Barat saja. Dari pustaka kami, dapat ditemukan beberapa narasi dan akhirnya memprioritaskan fokus pada apa yang terjadi di Indonesia. Buku IVAA Seri Katalog Data IVAA #1, Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942-2011) menjadi buku referensi utama yang isinya mendobrak penulisan sejarah seni rupa Indonesia temasuk dalam perlakuan perempuan di kesenian Indonesia. Dengan analisa ini dan penulisan terhadap kekaryaan Pameran Efek Samping, pendobrakan dengan suatu pertanyaan, menjadi kontribusi terhadap visual culture yang dibangun oleh Futuwonder.

Menerima adanya kerja multidisiplin menjadi kunci dari pengembangan visual culture itu sendiri. Dan dengan harapan bentuknya sebagai kolektif yang juga sebagai platform atau portal untuk seni dan wacana juga tercapai saat ini. Pameran Efek Samping terasa berkontribusi satu narasi bagaimana kesenian bisa melakukan suatu pengembangan visual culture dengan membawakan tema dan wacana perempuan di kesenian ke publik. Selebihnya, mengembangkan koneksi dan dapat menjual beberapa karya sampai saat ini, menunjukan apresiasi telah dapat dibangun secara wacana dan komoditas kesenian oleh Pameran Efek Samping di Bali.

Sesuai nama yang dipilih, Futuwonder, terdiri dari kata future (masa depan) dan wonder (berpikir/melihat ke depan), semoga visual culture Pameran Efek Samping yang telah dibentuk saat ini dapat membuka wawasan untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

Artist Talk akan berlangsung pada tanggal 17 November 2018 pk. 11.00-14.00 di Karja Art Space, Jl. Pacekan No. 18, Banjar Panestanan Kaja, Ubud

Pameran Efek Samping masih berlangsung di Karja Art Space, Jl. Pacekan No. 18, Banjar Panestanan Kaja, Ubud sampai tanggal 19 November 2018 pk. 10.00-17.00

Catatan No. 1: Cerita-cerita Kecil Pameran Efek Samping

Penulis: Savitri Sastrawan

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore. Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban, tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan, serta dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia, menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya di empu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Adapun cerita-cerita kecil yang terlihat dan dibagikan selama pembukaan itu dari perupa-perupa yang ikut. Perupa maupun pembuka pameran, keduanya ada yang membawa keluarganya ke pameran itu. Ini merupakan hal yang hampir tidak terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, yang ada perupanya tidak pernah ajak keluarganya atau tidak mau keluarganya datang. Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan mereka kepada anaknya, istrinya, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar dan ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya. Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ada saatnya ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta padanya. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Dan saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali. Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya dan mengikuti pameran manapun, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo, lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call. Ibu Siti yang sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi yang dilaluinya, dengan Pak Santo ia sangat didukung untuk berkarya lagi dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang travel sendiri ke Bali menagatakan ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya yang sekarang sudah balita. Hanny yang kesibukan sehari-harinya sebagai dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya juga. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung. Saat penasaran dengan proses karyanya yang sukses mengubah kata Empower ke Women, karyanya yang terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya, sehingga ia dapat memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut juga. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplor itu sangat menarik waktu dapat mendengarkannya langsung.

20181027-fik_futu wonder (21)
Foto oleh Syafiudin Vifick

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik juga di pagi kemudian setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa dapat berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping.

Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya. Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang seperti diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya yang telah ditemukan, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan itu sendiri dari ribuan tahun lamanya. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode yang menarik untuk ditelusuri dan diperbincangkan.

Serta menjadi suatu pernyataan juga, bahwa di kesenian, bahasa sangatlah berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dapat dibawa ke permukaan. Ada bahasan bahwa perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian hal yang tersensitif pun dapat disampaikannya, juga elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkannya. Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015) yang menyatakan perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan yang berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya menurut para perupa yang ikut berpameran dan juga pengunjung yang telah datang. Setiap perupa memiliki cara yang hampir tidak sama merespon atau mengkreasikan karya yang membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara real (nyata), karena sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Tetapi juga karena secara tidak langsung, latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa tercerminkan dan terucapkan dalam merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel (rasa) nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro dan Carla Bianpoen, bahwa ada beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya. Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini. Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.

Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu juga merupakan sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut dan juga untuk Futuwonder sendiri.

Futuwonder ingin mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan yang telah diberikan.

Pameran Efek Samping masih berlangsung di Karja Art Space, Jl. Pacekan No. 18, Banjar Panestanan Kaja, Ubud sampai tanggal 19 November 2018 pk. 10.00-17.00

Artikel ini juga dipublikasi di Balebengong.id – klik disini

 

Katalog Masa Subur: Efek Samping

Yang ditunggu-tunggu akhirnya hadir juga!

Klik link dibawah ini untuk mengunduh katalog Masa Subur: Efek Samping (Bahasa Indonesia)

Katalog Pameran Efek Samping Futuwonder 2018

 

 

Pameran Efek Samping masih berlangsung di Karja Art Space, Jl. Pacekan No. 18, Banjar Panestanan Kaja, Ubud sampai tanggal 19 November 2018 pk. 10.00-17.00

Tulisan Kuratorial Pameran Efek Samping, 20 Oktober – 9 November

Masa Subur, Efek Samping

Kurator: PKK (Futuwonder – Ruth Onduko, Savitri Sastrawan, Citra Sasmita, Putu Sridiniari)

Penulis: Savitri Sastrawan

 

Proyek Masa Subur adalah kegiatan berkesenian bersama yang didedikasikan untuk perempuan pekerja seni. Proyek Masa Subur mencoba menghadirkan produktivitas perempuan pekerja seni yang tidak hanya aktif berkarya namun aktif juga dalam memproduksi ide dan gagasan.

Digerakkan oleh Futuwonder, Masa Subur mengambil format pameran lintas disiplin yang melibatkan perempuan pekerja seni di Indonesia. Dalam kegiatan Masa Subur perdana ini, diadakan Panggilan Terbuka (Open Call) untuk perempuan pekerja seni yang tinggal di Bali maupun di luar Bali, dengan tema pameran: Efek Samping.

Efek Samping lahir dari estetika dan wacana kekaryaan perempuan pekerja seni kerap diasosiasikan dengan ungkapan emosional dan representasi hal-hal yang sifatnya personal dari seorang perempuan. Karena asosiasi itu, kekaryaan perempuan pekerja seni dianggap terbatas sehingga sulit diperhitungkan untuk dikaitkan ke wacana lainnya maupun dikembangkan ke wacana yang lebih besar.

Tetapi, apakah benar terbatas, atau malah, dibatasi?

Futuwonder melihat pertanyaan ini bagai Efek Samping dari narasi seni rupa yang tertulis atau tutur dari generasi ke generasi, baik itu di Bali, Indonesia, maupun di luar Indonesia. Tidak diketahui apakah jawaban dari pertanyaan itu akan didapatkan, namun diharapkan Pameran Efek Samping dapat mengangkat permasalahan yang telah menggerutu ini ke permukaan dan dibahas bersama, oleh siapapun dan apapun gendernya.

Untuk memulai mencari jawaban itu dan membahas kekaryaan pameran Efek Samping, kami merasa perlu membaca kembali Sejarah Seni Rupa dan eksistensi perempuan di dalamnya. Dalam runut Sejarah Seni Rupa Indonesia menurut buku IVAA (Indonesian Visual Art Archives) berjudul Seri Katalog Data IVAA #1, Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942-2011), diceritakan banyak peristiwa yang sudah terjadi terhadap wacana gender dan berkesenian dalam durasi 70 tahun itu, termasuk terhadap perempuan. Akan ada beberapa poin yang diangkat dari buku ini.

Poin pertama adalah kehadiran seni rupa modern di Indonesia yang melahirkan beberapa posisi perempuan di seni rupa.

Cerita seni rupa modern atau “seni rupa Indonesia yang baru” (memisahkan diri dari apa yang dikatakan seni tradisional) ternyata hadir dari “transfer nalar modern dalam konteks kolonialisme.”[1] Transfer nalar modern tersebut terjadi melalui berbagai media, termasuk pendidikan. Dalam pendidikan kesenian ada yang institusional (formal) dan sanggar-sanggar (informal), dimana para pelajar seni akan mencapai inti seni rupa modern (gaya, tema, bahan dan fungsi), dengan cara harus mempelajari studi anatomi perempuan dan laki-laki serta membuat lukisan model tubuh perempuan dan laki-laki. [2]

‘Keharusan’ mempelajari studi anatomi dan lukisan model tubuh (laki-laki dan perempuan) demi mendapatkan ‘gelar’ sebuah karya dikategorikan seni rupa modern Indonesia itu melahirkan wacana gender.[3] Bahkan ada empat posisi perempuan di kesenian yang ditemukan dan menjadi fakta yang menggelisahkan. Yang paling menarik perhatian adalah: Citra tubuh (perempuan) dalam lukisan – dimana Basoeki Abdullah pernah mengatakan, “Perempuan itu lebih cocok dilukis daripada sebagai pelukis”; dan, Model perempuan menjadi karya potret – Perempuan sebagai model studi, sebagai media pendokumentasian seperti objek yang lain (gunung, sawah, tetangga, dll).[4] Posisi-posisi perempuan di atas menjadi pembawa pesimistik bahwa perempuan tidaklah lebih dari objek dan subjek di seni rupa modern Indonesia, serta mengkonfirmasi bagaimana perempuan memang pernah (bahkan masih) diposisikan demikian di seni rupa Indonesia.

Di sisi lain, “legitimasi kesenimanan seniman perempuan” di Indonesia ternyata terletak pada “siapa mentor laki-lakinya”, seperti “Emiria Soenassa dipandang sebagai murid Soedjojono” dan “[I Gusti Ayu Kadek] Murniasih dipandang sebagai murid Putu Mokoh”.[5] Ini juga menambahkan wacana seakan kemampuan dan kelihaian perempuan pekerja seni hanya dapat diterima dengan melihat siapa perupa laki-laki yang mengajarkan kesenian kepada mereka.

Akan tetapi, di buku “Indonesian Women Artists: The Curtain Opens” oleh perempuan pekerja seni Carla Bianpoen, Farah Wardani dan Wulan Dirgantoro yang diterbitkan tahun 2007, dinyatakan bahwa “perempuan telah berkontribusi banyak untuk sejarah seni rupa Indonesia” melalui kekaryaannya,

….kayanya simbolisme dari tradisi lokal, ikon religius, kehidupan domestik, dan lingkungan urban, serta kemampuan mereka untuk memasukan identitas gender mereka ke karyanya membentuk diskusi permasalahan identitas dan gender, sesuatu yang cenderung diabaikan dan ditepis oleh laki-laki perupa.[6]

Dari yang dibahas di atas, sedikit mengkonfirmasi bahwa di satu sisi perempuan memang diposisikan atau dibicarakan jauh dari kemungkinan-kemungkinan kemampuan berkarya mereka di kesenian. Di sisi lain, kekaryaan perempuan perupa dilihat dapat melengkapi apa yang tidak dilihat laki-laki perupa. Perspektif-perspektif yang dibahas di atas menjawab sedikit tentang Efek Samping yang kami pertanyakan tersebut – bahwa ternyata ada keterbatasan yang dibuat (dibatasi) oleh perupa maupun penulis yang posisi dan porsinya lebih banyak untuk menceritakan narasi yang menepis keberadaan perempuan pekerja seni saat itu.

Poin kedua adalah perempuan harus menghadapi ‘bahaya’ atau dianggap ‘bahaya’ dalam berkarya, sehingga tidak tertulis di buku sejarah seni rupa Indonesia dan akhirnya ada penulisan ulang sejarah perempuan pekerja seni.

Pada buku DANGER! Women Artists at Work (BAHAYA! Perempuan Seniman saat Kerja), dikatakan kekaryaan perempuan bagaikan diskursus keberanian yang ‘berbahaya’ sehingga harus dihindari atau dihalangi. Maka, Debra merasa perlu untuk menulis kembali sejarah perempuan pekerja seni semestinya.

Debra menuliskan bahwa ada beberapa aspek yang perempuan pekerja seni harus lalui dan lawan, seperti: diberikan pilihan yang terbatas, menjadi kemarahan publik, cibiran profesi, kutukan dan penyensoran (sensor).[7] Maka perempuan pekerja seni memilih beraksi secara berani daripada bermain aman, entah lewat ekspresi politik, subjek yang provokatif, memberikan suara kepada yang dipinggirkan, bahkan menulis kembali sejarah seni yang sudah kanon penuh dominasi laki-laki tersebut.[8]

Kembali lagi ke ranah Indonesia, menurut IVAA, post-rezim Soeharto (reformasi) menjadi titik berputarnya sejarah. Cerita-cerita yang tadinya dibungkam mulai bermunculan, termasuk melalui penulisan kembali perempuan pekerja seni yang dianggap ‘bahaya’ itu. Salah satunya adalah riset Heidi Arbuckle tentang Emiria Soenassa, sebagai “representasi perempuan Indonesia yang dituliskan (kembali)” di majalah Visual Art tahun 2004 dengan judul “Emiria: Sosok dan Narasi yang Terhapus.”[9]

Heidi menyebutkan bahwa Emiria merupakan sosok perempuan perupa lukis pertama di Indonesia yang sudah sepatutnya didokumentasikan dengan baik, namun kepergiannya yang dianggap misterius dijadikan alasan untuk tidak menulisnya, terlebih lagi dikenal sebagai “bukan tipe pelukis yang mengikuti arus.”[10] Mengingat di kutipan sebelumnya Emiria hanya dianggap perempuan pekerja seni karena ia adalah murid dari Soedjojono, mengkonfirmasikan kembali memang sepertinya Emiria tidak pernah ditulis karena ia memang seorang perempuan pekerja seni.

Arbuckle juga dengan berani menyatakan bahwa “jika kita menyimak betul perjalanan sejarah seni rupa Indonesia, absennya seniman wanita seperti sebuah kesengajaan,”[11] seperti mencerminkan juga fakta kecenderungan perempuan hanya diperingati sebagai objek/subjek lukis dibanding sebagai perupa yang berdiri sendiri, lagi dengan legitimasi siapa guru laki-lakinya.

Dengan itu, keberanian perempuan pekerja seni menulis atau mengaktifkan kembali sejarah eksistensi perempuan perupa di Seni Rupa Indonesia yang sempat dilupakan dapat mengkonfirmasi bahwa, iya, perempuan pekerja seni yang ada selama ini dianggap Efek Samping dari sejarah seni rupa yang dikenal banyak orang. Maka ‘konfirmasi kembali’ terhadap kesejarahan eksistensi perempuan pekerja seni kerap berulang dan terus diproses oleh perupa-perupa di generasi selanjutnya. Lalu, kembali ke pertanyaan di awal,

Tetapi, apakah benar terbatas, atau malah, dibatasi?

Jawaban yang didapatkan dari pembacaan di atas, bahwa sebenarnya,

Dibatasi.

Atas latar belakang yang kami temukan ini dan dengan berlangsungnya Open Call, kami merasa sangat beruntung dapat menjawab bersama pertanyaan tersebut. Namun, menghadapi ini sebagai pameran dan dengan Open Call, adapun kurasi yang kerap tetap dilakukan untuk merepresentasikan jawaban tersebut. Perlu dicatat, dalam Open Call ini, dengan keterbatasan ruang pameran yang telah dipersiapkan, kami tetap ingin membuka kesempatan untuk disiplin apapun untuk merespon kriteria yang telah diberikan.

Disini Futuwonder telah menerapkan proses kurasi karya secara kolektif dan kolaboratif dari karya-karya yang sudah masuk, baik undangan maupun open call, yang dinamakan sistem PKK (Program Kurasi Kolektif). Melalui PKK, kurasi pameran Efek Samping dipertimbangkan dari: alasan kandidat mengikuti Open Call, mencari keragaman bentuk visual dan konsep yang merespon tema yang telah diberikan, integritas antara visual dan konsep tersebut, serta melihat kesinambungan/kemampuan karya-karya merespon ruang dalam merepresentasikan Efek Samping.

Karena yang diharapkan diterima adalah karya-karya dari banyak disiplin dan karya yang diterima sangat beragam, PKK dapat membentuk Efek Samping menjadi pameran seni rupa yang lintas disiplin. Banyak dari partisipan benar-benar bereksplorasi dengan media yang digunakan, menunjukan kelihaian dan kemampuan mereka sebagai perempuan pekerja seni mengolah suatu metode penciptaan karya, baik itu yang bersifat kerajinan (craft, contoh: jahit-menjahit, keramik), desain (contoh: desain grafis), maupun seni rupa murni (fine art, contoh: lukisan). Dari karya yang terpilih, secara langsung mereka memperlihatkan kejujuran curahan ekspresi dari masing-masing perupa dalam mengangkat tema Efek Samping itu sendiri. Ini berhubungan dengan apa yang telah dijabarkan dalam penulisan dua buku yang telah dibahas di atas, bahwa perempuan pekerja seni telah sangat dibatasi dalam mempertunjukan kemampuan berkaryanya. Pameran Efek Samping diikuti 25 perempuan pekerja seni.

Kami mengundang 4 perempuan pekerja seni, yakni dari Jakarta – Ika Vantiani, Bali – Mangku Muriati, Jakarta – Andita Purnama yang akan berkolaborasi dengan Citra Sasmita dari Bali. Kami merasa keempat perempuan pekerja seni ini dapat menjadi tonggak kesenian Indonesia saat ini yang pencapaian kekaryaannya sangat beragam dan maksimal. Instalasi Ika tentang definisi kata “perempuan” dari beberapa versi Kamus Besar Bahasa Indonesia, karya Mangku yang menggunakan gaya lukis Kamasan mengangkat tentang perempuan yang berkarir di dunia kontemporer yang sering dipertanyakan, serta karya Andita dan Citra yang akan mempertanyakan posisi perempuan saat ini melalui performance art yang akan menggunakan suatu budaya tradisi, memperlihatkan metode berkesenian yang beragam dan keberanian gagasan yang mendekonstruksi tradisi-tradisi yang telah ada sebelum dibuatnya karya-karya ini.

Dari 21 perempuan pekerja seni yang lolos open call, adapun ragam medianya sebagai berikut. Ika Yunita Soegoro (Samarinda) dan Santy Wai Zakaria (Denpasar) yang menggunakan media cat air, dimana Ika mengungkapkan apresiasi lintas generasi sedangkan Wai mempertanyakan kerapuhan melalui gambaran anatomi laki-laki. Goresan dan cara mereka menggunakan cat air sangat penuh presisi sehingga menimbulkan suatu rasa yang membuat kita ingin mendalaminya.

Ni Luh Listya Wahyuni (Denpasar), Siti Nur Qomariyah (Sragen), Patricia Paramita (Jakarta), Nuri F.Y. (Yogyakarta), Osyadha Ramadhanna (Malang), Sumie Isashi (Badung), dan Luna Dian Setya (Surakarta), berkarya dalam bentuk lukisan atau menggambar (drawing) di atas satu bidang kanvas, kertas, maupun kulit sintetis. Masing-masing membawakan gaya mereka tersendiri, mengangkat imaji posisi perempuan maupun keseharian perempuan yang dibentuk menjadi suatu utopia atau surealisme, bagai menggambarkan sebuah sajak atau metafora yang tidak jauh dari kehidupan manusia sehari-hari.

Eksplorasi tekstil pun didapati disini dan beragam – dari permainan metafora menggunakan batik oleh A. Y. Sekar F. (Bandung), jahitan yang menggelitik kata Wanita oleh Christine Mandasari Dwijayati (Denpasar), dan jahitan mempertanyakan posisi perempuan dalam sejarah evolusi manusia oleh Salima Hakim (Tangerang). Tekstil sangatlah dekat dengan keseharian kita, namun mendapatkan karya yang berbasis padanya masih sering ditemukan dalam bentuk tradisional. Kali ini, Futuwonder menemukan beberapa dari mereka yang bisa dikatakan ‘berani’ menggunakannya sebagai metode menjawab bersama tema Efek Samping.

Sekar Puti (Gianyar), Venty Vergianti (Denpasar), dan Evy Yonathan (Jakarta), merupakan perempuan pekerja seni yang telah berkarya melalui kriya keramik. Ketiganya sudah mumpuni dan menyampaikan gagasan mereka tentang keluarga dan posisi perempuan di masyarakat dengan gaya masing-masing melalui bentuk-bentuk yang tidak biasa ditemukan pada keramik sehari-hari. Dimana Sekar membentuk sesuatu yang tiga dimensi menjadi dua dimensi, sedangkan Venty dan Evy walaupun masih bermain keramik berbentuk tiga dimensi, representasi karya mereka tetap dapat menggelitik pemikiran masyarakat. Proses membentuk tanah liat, lalu ke pewarnaan dan pembakaran keramik bukanlah hal yang mudah dikuasai secara cepat. Namun ketiga perempuan pekerja seni ini dapat menunjukan bahwa penguasaan metode pembuatan keramik yang masih sering dikaitkan hanya sebatas kerajinan, dapat menyampaikan suatu gagasan yang ekspresif dan tidak lupa juga secara estetis.

Dari yang kita kenal sebagai area desain, kami menemukan berbagai metode juga yang telah disuguhkan dan berhasil dicapai oleh para perempuan pekerja seni yang ikut dalam Open Call. Seperti, Findy Tia Anggraini (Malang) yang menggunakan teknik cukil mengekspresikan kegelisahan permasalahan ibu yang semena dengan anaknya, dan Khairani Larasati Imania (Malang) menggunakan tipografi sebagai metode memainkan transformasi dari kata Empower (memberdayakan) ke Women (perempuan) dengan meniru gaya seniman laki-laki M.C. Escher, mendekonstruksi desain sebagai metode berkarya dan menghasilkan karya-karya yang inovatif.

Inovasi itu lalu terus berlanjut ditemukan pada dua karya yang dasarnya adalah fotografi. Karya Dea Widya (Bandung) yang mengintervensi foto arsip dengan suatu jahitan dalam mempertanyakan suatu posisi perempuan, lalu Caron Toshiko Monica (Jakarta) yang mengajak pengunjung untuk menikmati suguhan puzzle-foto-nya dengan mengikuti negatif foto yang disediakan dimana mempertanyakan materialitas fotografi itu sendiri – mempengaruhi dan dipengaruhi.

Sedangkan, Tactic Plastic Project (Yogyakarta) beserta Irene Febry (Denpasar), menyuguhkan material sebagai metode “bahasa” yang menyampaikan gagasannya, dimana Tactic menggunakan limbah plastik dan Irene menggunakan berbagai macam kertas. Keduanya merupakan karya yang diluar ranah seni rupa yang konvensional dan berhasil mengolah suatu material menjadi karya yang masih terasa raw (kasar atau mentah) tetapi memiliki sentuhan yang lembut. Jika estetika harus indah, kemungkinan besar kekaryaan seperti ini tidaklah layak dipamerkan. Akan tetapi, dengan wacana yang menggugah, estetis kekaryaan seperti ini mengikutinya dan dapat memberikan rasa yang unik merepresentasikan Efek Samping itu – bahwa saat tidak dibatasi material kekaryaan perempuan pekerja seni sangatlah tiada batasnya.

Akhir kata, pameran ini merupakan pameran bersama perdana dibawah naungan Futuwonder. Mengangkat tema Efek Samping yang mempertanyakan keadaan sebenarnya sejarah seni rupa di Indonesia sebagai bahasan utamanya, adalah tema yang besar dan tidaklah bisa dicerna secara mudah – apalagi membacanya karena kegelisahan dan keinginan memahaminya secara keseluruhan – adalah suatu perjuangan tersendiri. Open Call yang dilakukan dapat membuka pemahaman kami juga akan pandangan Efek Samping dari berbagai perempuan pekerja seni di Indonesia. Maka dari itu, pameran ini dan apa yang tertulis disini, diharapkan dapat menjadi pemantik kemunculan dan tumbuhnya ekosistem seni rupa yang baik dan sehat untuk perempuan pekerja seni, khususnya di Bali.

 

 

Pameran Efek Samping berlangsung di Karja Art Space, Jl. Pacekan No. 18, Banjar Panestanan Kaja, Ubud pada tanggal 20 Oktober – 9 November 2018 pk. 10.00-17.00

Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan di Seni Rupa” pada tanggal 27 Oktober 2018 pk. 14.00, bersama narasumber Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (perempuan perupa), Moderator Candra Mertha, 

 

[1] Indonesian Visual Art Archives, Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942-2011), (Indonesian Visual Art Archives: Yogyakarta, 2011), hal. 38.

[2] Ibid, hal. 38.

[3] Ibid, hal. 40.

[4] Ibid, hal. 41-43.

[5] Ibid, hal. 67.

[6] Ibid, hal. 69.

[7] Debra N. Mancoff, DANGER! Women Artists at Work, (Merrell Publications:London, 2012), hal. 15.

[8] Ibid, hal. 15.

[9] IVAA, Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942-2011), hal. 62.

[10] Ibid, hal. 62.

[11] Ibid, hal. 63.

 

 

Open Call: Masa Subur

instagram_opencall-02Sudah siap untuk program Futuwonder selanjutnya!?!

Futuwonder mengundang para perempuan pekerja seni di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam panggilan terbuka proyek “Masa Subur” di Karja Art Space, Ubud, Bali!

Pameran kolektif perdana ini akan berlangsung bulan Oktober 2018.
Kami tunggu karya-karyanya!

Deadline Pendaftaran: 20 September 2018

Baca selengkapnya di: Open Call Futuwonder-Masa Subur
Unduh formulir : Formulir Pendaftaran-Futuwonder Masa Subur

Pendaftaran aplikasi hanya diterima melalui surel futuwonder@gmail.com

Informasi dan pertanyaan dapat dikirimkan kepada futuwonder@gmail.com, Instagram @futuwonder atau Savitri 081805388683 (WA)