Focus On: Mangku Muriati

whatsapp image 2019-01-23 at 14.55.54

Mangku Muriati, Puan Pelukis Wayang Kamasan dari Banjar Siku

Video Focus On Mangku Murati: Klik disini

Penulis: Putu Sridiniari dan Savitri Sastrawan

 

Pada abad ke-17, lukisan tradisional berkembang di daerah timur Bali, tepatnya di Desa Kamasan, Klungkung, yang kini dikenal dengan gaya lukis Wayang Kamasan. Konsep dari gaya lukis Kamasan berangkat dari kebutuhan ritual keagamaan dan pemujaan, serta persembahan kepada raja. Tema-tema yang paling sering muncul adalah epos Ramayana dan Mahabharata.

Mangku Muriati adalah anak perempuan dari Mangku Mura (1920-1999), pelukis Kamasan yang terkenal pada generasinya. Mangku Muriati sejak kecil rajin membantu mewarnai sketsa bapaknya. Pada tahun 1986 sampai 1993, Mangku Muriati menjadi satu-satunya dari saudaranya yang melanjutkan pendidikan akademisnya di bidang seni rupa, Program Sarjana Seni Rupa dan Desain (PSSRD) di Universitas Udayana.

Lekat terasa pengaruh Bapaknya, Mangku Mura pada curahan hati Mangku Muriati siang itu. “Semua berkat dukungan Bapak! Bapak percaya bahwa saya pun sebagai perempuan layak untuk mendapatkan pendidikan dan berkarya. Punya anak tujuh, Bapak rela berkorban bahkan pernah 3 hari tak makan demi anak-anaknya. Bapak memperjuangkan pendidikan saya,” cerita Mangku Muriati.

Cita-cita Mangku Muriati setelah lulus adalah menjadi seorang dosen. Pada tahun 1995 ia melamar sebagai dosen lukis tradisi Kamasan di STSI, namun tidak diizinkan oleh bapaknya Mangku Mura. Menurutnya, ini pemikiran yang sangat aneh, untuk apa sekolah tinggi lalu tidak diperbolehkan melamar menjadi dosen?

Pada tahun 1999, Mangku Mura meninggal dunia dan Mangku Muriati mendapat wangsit untuk menggantikan posisi bapaknya sebagai Pemangku (pendeta). Bapaknya memilih Mangku Muriati yang perempuan daripada kakak-kakak laki-lakinya yang waktu itu sudah terus membantu bapaknya dan seorang pemangku juga. Ternyata Mangku Mura ingin mendobrak dan memberi contoh bahwa pedanda perempuan itu juga layak dan bisa diterapkan. “Bapak ingin pemangku kawa, tidak kania,” tutur Mangku Muriati.

Selama dua purnama kemudian, Mangku Muriati belajar menjadi pendeta. Harus membaca bacaan sastra Bali, belajar menggunakan genta. Ia tidak mau berutang budi kepada orang tua, maka ia jalankan amanah dari bapaknya. Ia harus bisa dan melanjutkan bapaknya. “Namun, saya sempat bertanya, kenapa harus kuliah? Katanya, supaya kamu lebih bisa, agar pengetahuan lebih banyak dari bapak. Kamu harus mempertahankan ini, hanya kamu yang bisa. Jangan sampai nama bapak itu hilang. Maka saya selalu membawa nama saya Muriati Mangku Mura,” Mangku Muriati menjelaskan.

Dalam berkesenian, Mangku Muriati merasakan dampak hal itu ke eksplorasi tema karya. Privilesenya adalah mendapatkan akses untuk membaca sastra menjadi salah satu inspirasinya. Sebagai seorang perempuan yang mengemban posisi krusial dan strategis, standar ganda masih sering dirasakan sehingga Mangku merasa satu-satunya cara adalah dengan tetap bersuara melalui karya. Ia memang ingin menjadi pelukis, ingin seperti bapaknya, ingin menjadi perempuan perupa Kamasan, dan ia dapat membuktikannya.

Seniman tradisional Kamasan menggunakan pigmen alami, pena dan kuas buatan. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka berusaha untuk menciptakan kesempurnaan garis, bentuk, proporsi maupun komposisi warna sesuai dengan aturan ikonografi.

Pendidikan tinggi tidak mengubah gaya lukis Muriati, namun seperti yang diinginkan bapaknya, malah membantu secara teknis mengingat pada tahun 1990an ini ada gelombang perpindahan dari penggunaan pigmen warna alami ke akrilik. Dulu, warna ochre (kuning kecoklatan) didapat dari batu gamping dari Pulau Serangan di selatan Bali. Sejak 1990, pengusaha Tommy Suharto mengembangkan properti disana, jalanpun dibangun, sejak saat itu pelukis Kamasan tak lagi dapat menambang batu disana. Banyak orang yang mengandalkan stok batu yang dikubur untuk menghindari oksidasi. Namun untuk warna lain seperti biru dan hijau, Muriati mengandalkan ilmu yang ia dapat di perguruan tinggi untuk mencampur warna dari bahan akrilik.

Saat ini warna alami yang masih bisa didapatkan adalah batu pere. Namun jika habis, maka cat warna yang mendekati pere lah yang digunakan. Lem ancur untuk mendasari kanvas dan mengolah warna alam sudah tidak sama. Untuk alat, menggunakan pena bambu yip, tetapi suka rapuh maka sekarang dikombinasikan menggunakan drawing pen untuk nyawi (tahap terakhir menebalkan garis-garis). Untuk warna putih masih menggunakan tulang babi. Sedangkan untuk mencampur warna, lem kayu modern seperti Fox pun digunakan untuk mendasari kanvas dan mencampur warna. Maka dalam melukis Kamasan, Mangku Muriati sudah mengkombinasikan warna alami dengan cat akrilik.

Selain ia tetap aktif berpameran di sela kesibukannya, uniknya ia rajin menantang batasan-batasan tradisi dengan bermain tema dan medium, seperti isu politik dan sosial masa kini di dalam lukisannya. Ia juga mendapatkan inspirasi dari sumber-sumber lain yang keluar dari tema Ramayana dan Mahabharata. Memang menjadi satu kesulitan saat ia ingin menjual karyanya tetapi pembeli karyanya tidaklah menjadi sembarang orang juga. Dengan cerita-cerita yang diangkat seperti cerita asal mula padi, geguritan yang ia dengar di radio, dari lontar yang ia baca, pembeli malah tertarik karena lukisan wayangnya tidaklah saja tentang Ramayana maupun Mahabrata. “Pengunjung yang datang mau bertanya dan cari tahu. Terpilih lah mereka, tidak sembarang tamu. Karena adanya cerita unik, mereka sampai disini (di rumah Mangku Muriati) dan ingin mencari tahu. Tempat ini tidaklah seperti artshop (toko jual lukisan),” ungkap Mangku Muriati.

Walaupun orang tua Mangku Muriati mampu menyekolahkannya dengan saat itu lukisan dan pariwisata melaju pesat sehingga dapat pendapatan banyak dari melukis, bapaknya berpesan bahwa ia tidak harus khawatir jika pariwisata lesu karena dipercaya akan bertahan (survive). Untuk Mangku Muriati pun, intinya adalah melestarikan gaya lukisan Wayang Kamasan. “Gaya lukisan ini adalah satu-satunya lukisan klasik di Bali. Walaupun ceritanya dari ide-ide baru, penampilan tetap Kamasan. Seperti mempertahankan pohon-pohon gaya Kamasan disini,” Mangku Muriati sambil menunjukan gaya pohon yang ia lukis, “Sekarang pohon gaya Ubud yang ditiru.”

Pembicaraan dari Ibu Mangku Muriati sungguh menginspirasi dan banyak cerita darinya. Pengetahuannya yang sangat luas membuat kita ingin tidak berhenti berdiskusi. Kami berharap Mangku Muriati dapat menginspirasi lebih banyak orang lagi, para perempuan pekerja seni di Bali maupun luar Bali, dan kami berharap berkolaborasi bersamanya agar karyanya terus dikenal oleh generasi-generasi berikutnya.

Mangku Muriati merupakan salah satu invited artist yang ikut dalam pameran Masa Subur: Efek Samping pada tahun 2018. Untuk katalognya klik disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s